Selasa, 26 November 2013

KUMPULAN BEBERAPA CERPEN 


KEJUJURAN
Cerpen Karya Budi Purwanto

Saat aku berkerja, tiba-tiba aku nerima pesan SMS dari bibiku yang di Jakarta. Gak pake lama aku langsung ngebuka apa isi pesan singkat itu. Soalnya kemaren si bibi udah pernah bilang ke aku kalo bibi mau transfer uang ke rekeningku buat ngebayar sapi yang rencananya mau buat kurban saat idhul adha besok. “jang, bibi udah transfer uang ke rekening kamu..”.(isi dari SMS bibi barusan). “iya bi, nanti coba aku cek ke ATM yah.. emangnya bibi transfer berapa?”.(Balesan SMS ku sama si bibi). Terus beberapa menit kemudian si bibi ngebalas SMS ku, “80juta jang.. nanti kamu bilang ke bapa mu yah, itu buat DP dulu.. kekurangannya nanti kalo bibi pulang”.(Jawab si bibi).

Kebetulan di HP ku ada aplikasi yang bisa buat nge-cek saldo direkening, jadi aku langsung aja nyoba nge-cek saldonya via HP. Selang beberapa proses akhirnya aku dapet konfirmasi dari SMS Banking. Dan ” Haaaahhhh..!!!”,(reflek karena aku saking kagetnya ngeliat jumlah saldo yang ada di rekeningku). “sisa saldo anda saat ini sejumlah: Rp.107.000.000,- “. Badanku serentak gemetar kenceng banget dan keringet dingin ku pun langsung ngalir deres disebagian muka ku setelah aku ngebaca isi SMS Banking itu tadi.

Kejujuran - Cerpen Motivasi
Karena masih belum percaya, aku nyoba ngepastiin sebenernya aku yang salah ngebaca isi SMS Banking tadi atau apa aku yang salah liat yah... akhirnya aku ngebuka SMS Banking itu lagi, dan lebih cermat sambil ngeja digit angka satu per satu dan ternyata emang bener. Ternyata Jumlah saldo yang ada di rekeningku sekarang menjadi 107juta lebih yang tadinya saldo ku yang hanya 3jutaan.
Badanku hampir gak ada henti-hentinya bergetar, di tambah detak jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya dan keringat dingin terus mengguyur seluruh muka ku. “bibi katanya kan cuma transfer 80juta, kok saldo rekeningku jadi banyak banget yaah??? Padahal saldo sebelumnya kan cuma 3jutaan. Berarti kalo bibi transfer 80juta dan saldo ku sebelumnya 3jutaan, harusnya kan saldo sekarang jadi 83jutaan. Kok ini ada saldo 107juta lebih..??”.(itulah ungkapan-ungkapan dalam hatiku saat itu).

Karena saking penasarannya, akhirnya aku langsung ngeluarin kalkulatorku buat ngitung rincian saldo itu. “jumlah saldo sekarang – uang dari bibi – saldo rekening sebelumnya”. Itu rumus yang aku pake buat ngitung jumlah saldo diluar uang transferan dari bibi dan jumlah saldo ku sebelumnya. Alhasil “ 24juta” adalah saldo yang diluar dari uang transferan dari bibi dan saldo ku sebelumnya. “Lantas, uang siapakah itu????” (tanda Tanya besar buatku).
“ya Alloh,, apa maksud dari semua ini?? Uang 24juta itu terlalu banyak buat ku. Apakah ini uang bibi yang salah transfer??, tapi gak mungkin.. bibi kan tadi Cuma bilang 80juta. apa kah ini uang orang lain yang nyasar ke rekeningku yahh??, hadduuuhhh… aku gak bisa berkata-kata lagi deh pokoknya.. atau jangan-jangan ini yang namanya rejeki tak terduga buat ku?? Kalo emang ini rejeki ku, dengan uang sebanyak ini aku mau beli motor baru lahh.. (fikiran jahatku mulai datang)
Karena masih belum 100% yakin, aku pun mampir ke ATM terdekat buat nge-cek saldo rekeningku lagi. Sambil masukin kartu ATM ke mesin ATM, aku ngucapin “bismillaahirrokhmaanirrokhiim”. Dan selang beberapa detik info saldo pun muncul dan hasilnyapun sama seperti SMS Banking yang aku terima via HP tadi. Tertera sisa saldo Rp.107.000.000,- lebih uang yang ada di rekeningku waktu itu.
“Astaghfirullahal’adziim..” begitulah cara aku nenangin diriku. Tapi terkadang hati kecilku bener-bener ngarepin kalo uang itu mudah-mudahan jadi rejeki tak terduga ku. “ya Alloh.. mudah-mudahan ini menjadi rejeki tak terdugaku ya Alloh..” tak henti-hentinya aku ngucapin ungakapan itu bekali-kali dalam hatiku.
Karena kondisi kebingungan yang amat sangat akhirnya aku mutusin buat mampir ke masjid terdekat karena pas kebetulan waktu sholat dhuhur telah tiba. Setelah sampai di masjid, aku melepas sepatu dan kaos kakiku dan kemudian aku duduk di teras masjid sambil ngembusin nafas panjang tanda aku sedang rileksasi. Dan secara seketika fikiranku langsung mengacu sama bibiku.
“kayaknya aku harus nyoba nanya sama si bibi deh tentang ini buat mastiin kalo ini uang bibi atau bukan..”. karena saat itu yang terkait dalam masalah ini hanya antara aku dan bibi. Kemungkinan kecil ada kaitannya sama orang lain. “Tapi kalo aku bilang masalah ini sama bibi takutnya bibi manfaatin situasi, lagipula si bibi bilangnya kan transfer 80juta”. Kata-kata itulah yang selalu terbayang dalam fikiranku. “andai aku diam aja alias ga ngomong sama siapa-siapa termasuk sama si bibi kemungkinan besar uang yang 24juta pasti jadi milik ku”.(Fikiran jahatku mulai kambuh lagi). Huffffftttt…!!!
“Ya Alloh.. apa yang mesti aku lakukan kalo keadaannya seperti ini?? Apakah aku harus diam seolah gak terjadi apa-apa?? Atau apakah aku harus jujur ke bibi tentang kejanggalan ini?? Ya Alloh, berikanlah petunjuk-Mu..” itulah kalimat yang ku lantunkan saat aku bener-bener harus memilih antara dua pilihan, -DIAM atau JUJUR-.

Kemudian aku terdiam sambil berfikir dan memilah-milah gimana sih baiknya. “Kalo aku diam mungkin uang itu akan jadi milikku, kalo aku jujur berarti aku harus ngilangin semua harapan ku buat ngedapetin uang itu”. (Motor baru.. motor baru.. dan motor baru..!!) kalo aku diam aku pasti ngedapetin uang itu dan bisa ngebeli motor baru. (Jujur.. jujur.. jujur..!!!) kalo aku jujur, aku gak mungkin ngedapetin uang itu dan bayangan buat ngebeli motor baru itu pun udah pasti pupus.

Tiba-tiba aku inget apa kata orang, “barang siapa memakan hak milik oranglain yang belum sepenuhnya menjadi hak miliknya, sama saja orang itu sedang mengambil haknya sendiri yang kelak akan menjadi haknya dimasa yang akan datang”. Logikanya.. seandainya Alloh memberikan jatah rizki-Nya selama hidupku sebanyak tujuh buah biji kurma berarti aku harus berkerja apa adanya supaya ke tujuh biji kurma itu bisa buat mencukupi segala kebutuhanku dari aku lahir sampai aku mati. Tapi jika aku ambil biji kurma itu tanpa berfikir berapa lama lagi aku hidup didunia ini maka apa yang akan terjadi??? Yang ada ke tujuh biji kurma itu pun akan habis sebelum sisa hidupku habis.. terus kira-kira apa yang akan aku gunakan buat ngelanjutin sisa hidupku selanjutnya?? Astaghfirullaah hal’adziim.. aku bener-bener harus jujur sama bibi kayaknya nihh.. aku yakin itu uang bibi yang nanti mau dipake buat ngebayar sapi kurban..
Akhirnya tanpa pikir panjang aku langsung aja nelpon bibi.
Aku : assalamualaikum, bi..
Bibi : walaikumsalam.. ada apa jang??
Aku : ini bi..
Bibi : kenapa jang???
Aku : heemmm, bibi kemarin kirim uang nya berapa sih??
Bibi : emangnya kenapa??
Aku : bi, sebenernya yang transfer uangnya bibi sendiri langsung ke banknya atau siapa?? (aku yang
balik nanya sama si bibi)
Bibi : yang transfer paman jang, emangnya kenapa sihh???
Aku : anu bi.. anu,,??? (sambil berfikir kira-kira mau jujur atau gak..) heemmm, begini bi.. kemaren
katanya bibi kan transfer 80juta.. kok sekarang saldo yang ada direkening ku lebih dari 80juta
yahhh bi???(terpaksa harus ngomong, tapi yaa udah lahh)
Bibi : emang yang ada di rekeningmu sekarang jumlahnya berapa??(dengan nada penasaran)
Aku : kan uang yang dari bibi Cuma 80juta,terus saldo yang direkening sebelumya ada 3juta..
harusnya saldo sekarang kan 83juta.. tapi ini kok ada banyak banget yahh???
Bibi : terus emangnya berapa???
Aku : ….107juta, bi..
Bibi : (dengan santainya bibi menjawab) ohhh.. mungkin itu uang paman yang transfer jang.. coba
nanti bibi telpon ke paman dulu yah soalnya sekarang paman lagi ada di china..
Aku : oh, gitu yah bi.. ya udah, aku Cuma mau ngomong itu aja kok bi..
Bibi : iya.. (dan obrolan aku sama bibi di telpon kemudian terputus)

Aku semakin tambah yakin aja kalo uang itu pasti emang sengaja paman yang transfer dan paman mungkin cuma bilang ke bibi kalo dia cuma transfer 80juta sama si bibi. tapi aku masih bertanya-tanya sebenernya uang siapakah itu.. dan tiba-tiba aku ngedapetin jalan keluarnya. Yaitu, “kalo aku ngambil langsung uang itu dari bank pake buku rekening pasti di rekening kan ada bukti pengirimannya. Patokannya, kalo seandainya nanti di kolom kredit tertera nominal 104juta berarti uang itu memang mutlak transferan dari paman buat bayar sapi kurban.. tapi seandainya di kolom kredit tertera 80juta dan 24juta secara terpisah kemungkinan besar uang yang 80juta adalah uang transferan dari paman, dan yang 24juta aku gak tau itu uang siapa..

Hari esoknya pun aku langsung ke bank buat ngambil uang itu dan ternyata emang bener.. setelah aku liat di buku rekening kolom kredit ternyata tertera nominal 104juta… itu beranti paman emang transfer 104 juta. dan kini aku pun sangat yakin seyakin-yakinnya kalo uang itu emang mutlak uang transferan dari paman buat bayar sapi kurban.. jujur, aku hanya bisa ngambil nafas panjang sambil agak sedikit ngerasa frustrasi karena uang itu belum bisa jadi rejeki ku.. tapi mau gimana lagi, emang itulah kenyataannya… Dan kemudian aku hanya bisa bilang, “yaa sudahlahh.. aku ikhlaskan semua ini.. ini memang bukan hak ku.. aku percaya suatu saat nanti aku pasti bisa ngedapetin hikmah dari semua kejadian ini..”

Akhirnya masalah pun selesai.. uang itu udah aku ambil dan aku kasihin ke bapa buat ngebayar sapinya. Dan selesainya masalah ini berarti cerita ini pun ikut selesai..



SAHABAT SELAMANYA
Karya Monica Sucianto

Disana terlihat dua orang anak perempuan yang kelihatan bahagia. Mereka tertawa dan bercanda berdua. Ternyata mereka berdua adalah sahabat. Mereka berdua mernama Adell dan Airin. Mereka takkan terpisahkan. Adell dan airin sudah saling kenal sejak kecil. Mereka berdua tdk pernah terpisah. Mereka sekelas bahkan satu bangku.

Pagi harinya di sekolah…
“Rin……” sapa Adell. Tapi yang biasanya mereka sangat akrab, sekarang berubah terbalik. Airin tidak menjawab sapaan Adell. Dia hanya pergi menjauh dari Adell sambil merintih seperti menangisi sesuatu. Adell sangat bingung, airin adalah sahabat nya tapi mengapa dia berubah menjauhi Adell.


Dikelas mereka berdua hanya diam diaman. Airin hanya memandangi wajah Adel dengan mata yang berkaca kaca. Saat Adell menyapanya, dia hanya meneteskan air mata. Dia gak mau bicara apa masalah nya, padahan Adell itu sahabatnya. Hingga suatu hari bangku Airin kosong, dia pindah ke bangku dipojok kelas yang jauh Dari Adell. Apa yang terjadi dengan nya?. Dia bukan Airin yang seperti biasanya.
Apakah Airin marah pada Adel?. Tapi gak mungkin. Soalnya Adel itu sahabatnya. Adell gak mau sahabat satu satunya pergi.
Adell takut Airin arah padanya. Adelpun meletakkan secarik surat kecil di depan rumah Airin. Surat itu tertulis…….
Airin….. kamu marah ya sama aku. Kalo aku salah bilang aja aku bakal minta maaf sama kamu. Sorry ya sebagai sahabat aku gak bias jadi seperti yang kamu inginkan. Kalo kamu udah gak mau jadi sahabatku lagi aku gak bakal marah, tapi hati kecilku ini tetap sedih kalo kamu gak mau jadi sahabatku lagi. Kuharap kamu cepat membalasnya

Dari Adell
Adell selalu memeriksa kotak surat di depan rumah nya, berharap ada surat balasan dari Airin. Tapi hasilnya selalu nihil. Gak ada satu surat pun di kotak surat tua itu. Adell sudah tak sanggup menunggu lagi. Dimalam yang dingin ini dia langsung berjalan cepat menuju rumah Airin. Adell tak bisa berhenti sebelum sampai di rumah Airin. Tiba tiba langkah nya berhenti mendadak tepat di tujun nya, rumah Airin. Adell melihat Airin sedang menangis di depan jendela sambil memegang surat dari Adell. Disitu terlihat Adell kebingungan, kenapa Airin nangis baca surat dari Adell???.
“Airin……..”teriak Adell dari depan rumah Airin. Tapi disitu Airin malah pergi. Dan tak terlihat lagi Airin di depan jendela. Adell pun pergi dengan langkah pelannya dan sekali kali menoleh ke belakang mengharapkan Airin keluar dari rumah nya.

Keesokan harinya, di papan absen tertulis nama “Airin”. Adell pun menoleh kearah bangku Airin yang jauh darinya. Ternyata benar, Airin gak masuk. Sekarang di hari hari Adell udah gak ada canda dan tawa lagi bersama Airin. Mungkin Airin “udah punya sahabat yang lebih baik dari ku”pikir Adell.
Adell sangat tidak bersemangat melangkah pulang kerumah nya. Biasanya Adell pulang sama Airin. Sekarang Adell hanya sendrian. Disitu terlihat Adell sudah hampir meneteskan air mata kesepian.
Sesampainya di rumah, Adell melihat ada surat di dalam kotak surat depam rumahnya. Adell pun membuka kotak surat tua itu perlahan lahan, dan mengambil surat di dalam nya. Disitu Adell sangat terkejut, itu surat dari Airin.

Surat itu tertulis……
Maaf ya Dell, Aku bukan gak mau jadi sahabat kamu lagi. Cuma setiap aku ngeliat kamu, rasanya pengen nangis. Aku bakal pergi ke luar kota. Aku sedih setiap ngeliat kamu, soalnya kita bakal berpisah lama. Mungkin kalo sudah satu tahun aku pergi kamu bias jemput sku di bandara, itu juga kalo kamu gak lupa sama aku. Bentar lagi aku mau berangkat ke bandara, selamat tinggal

Dari Airin
Belum sempat Adell ganti baju, Adell langsung lari ke rumah Airin. Adell lihat, rumah Airin kosang. Tiba tiba terdengat suara mobil. Suara mobil itu terdengar dari garasi Airin. Tiba tiba mobil Airin keluar dari garasi dan didalam nya ada Airin yang melambaikan tangan pada Adell. “Selamat tinggal Adell, semoga satu tahun kedepan kita masih bias bertemu” teriak Airin semakin mengecil.
Semejak itu Adell sering terlihat menyendiri. Adell terlihat kesepian tanpa Airin yang biasa menemani nya. Adell tak sabar satu tahun berlalu. Hingga penantiannya pun tercapai. Sudah satu tahun berlalu. Tidak lupa Adall segera menuju bandara. Adell terus menunggu tanpa ada kata lelah. Waktupun terus berjalan, sudah dua puluh empat jam Adell menunggu, tapi gak ada tenda tanda dari Airin.
Keluarga Adell udah kebingungan mencari Adell. Semua tempat kesukaan Adell udah di cari, tapi Adell tetap gak ketemu. Orang tua Adell gak berfikir mencari Adell ke bandara.

Tiga hari tiga malan Adell menunggu. Hingga Akhirnya Adell putus asa. “mungkin Airin udah gak mau kembali lagi” pikir Adell. Dengan langkah kecilnya Adell pun mencoba berjalan pulang. Dengan sedikit tenaga yang Adell miliki, akhirnya Adell bias pulang. Adell langsung disambut senang oleh keluarganya.
“Sayang… kamu kemana aja? Kok gak pulang pulang?? Mama ambilin teh ya??” Tanya mama bertubi tubi. Adell hanya bias menganggukkan kepala. Beberapa menit kemudian mama datang dengan memegang secangkir teh. Tapi, tiba tiba teh itu terjatuh. Disitu Adell sudah tergeletak di lantai. “sayang….sayang bangun kamu kenapa?”ucap mama kebingungan. Ternyata Adell udah gak ada. “Adell jangan tinggalin mama, mama sayang Adell”teriak mama sambil menetaskan air mata.

Adell pun di makamkan di sebelah makam mewah. “selamat tinggal ya sayang, semoga kamu tetap inget sama mama. Mama tetap doain kamu, mama bekal terus sayang kamu walau gak bias mama ucapkan langsung di depan mu mama tetap selalu ada buat kamu sayang GOOD BYE FOREVER” ucap mama di depan makan Adell. Ternyata makam meweh di sebelah makam Adell itu………. Makam Airin. Airin sudah meninggal karena kecelakaan pesawat. Gak ada yang bisa ngabarin Adell soalnya semua keluarga Airin tewas dalam kecelakaan pesawat itu. Walau begitu mereka tetap Abadi menjadi sahabat walau gak dibumi lagi.
**TAMAT**

PELURU YANG DI HARAP

Cerpen Karya Fathan Aulia Rahman

Hasan menatap lamat foto ibunya yang kusam. Tak disadarinya air matanya meleleh. Ini hari ketujuh ia dan adiknya Fatimah ditinggal ibunda tercinta. Masih begitu segar dalam benak dan ingatannya ketika sang ibu ditembak oleh junta militer. Masih segar dalam ingatannya jasad ibunya yang tak menentu. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat isi perut ibunya berhamburan keluar. Waktu itu ia menangis meraung-raung. Apalagi Fatimah. Tapi Ustadz Mahmud, guru mengaji mingguan Hasan menguatkanya. Sang Ustadz meyakini Hasan bahwa kematian ibunya tak perlu disesali atau ditangisi.
 
Karena Ibunya tidaklah mati. Hal inilah yang menjadi spirit bagi Hasan dan Fatimah untuk terus bertahan terus di camp demonstan. Baginya, tak ada guna pulang ke rumah. Ayah mereka telah gugur saat revolusi tahun 2011 yang meruntuhkan rezim Mubarak. Jadi, tak ada alasan baginya untuk pulang. Dirumah tidak ada ayah, tidak ada ibu. Tapi, malam ini, kerinduan terhadap kedua orang tuanya tak dapat lagi dibendung. Amarah berkecamuk di dadanya.
“ Akan ku balas kalian junta militer, aku takkan pulang sebelum semuanya selesai!” pekiknya. Teriakkan Hasan yang tiba-tiba, membuat Fatimah dan beberapa teman yang juga mengalami nasib sama terkejut. Lantas Fatimah berlari memasuki tenda demonstran yang saat itu hanya berisi Hasan seorang.
“Kakak kenapa?” tanyanya kepada sang kakak.
 
Peluru Yang Diharap - Cerpen Islami
Hasan hanya diam membisu. Sesekali sesegukan akibat tangisannya. “Kakak, kenapa menangis?”. Hasan lantas memeluk adiknya erat-erat.
“ Kakak rindu sama ibu?”. Hasan hanya diam. Matanya menerawang keluar. “Fatimah juga rindu sama ibu dan ayah,kak. Tapi, ingat kata Ustadz Mahmud, kalau ayah dan ibu itu tidak mati. Mereka pasti sekarang sedang berduaan di surga.” Hasan makin erat memeluk adiknya. Kemudian melepas pelukan.
“ Fatimah mau pulang apa tidak” tanya Hasan. Ia tatap adik semata wayangnya itu lamat-lamat.
“ Fatimah tidak akan mau pulang, kak! Apapun yang terjadi!” tegas Fatimah dengan penuh semangat.
“ Sungguh?”
“ Sungguh, kak! Memangnya wajah Fatimah bercanda”

Hasan terpana melihat sikap adiknya. Walaupun masih berusia enam tahun, tapi semangat jihad adinya ini tak bisa dianggap remeh.
“ Kalau begitu, mari kita tos”. Kakak beradik ini saling tos lantas tertawa.
“ Kita berjanji tidak akan pulang apa pun yang terjadi!”
Dan hari ini merupakan malam kesekian Hasan dan jutaan demonstran lain berkumpul di Rab’ah Al- Adawiyah. Demonstran yang siap untuk menjadi pelaku sejarah. Mereka bertekad tidak akan pulang ke rumah sampai keadilan yang akan memulangkan mereka. Satu tuntutan besar mereka. Mengembalikan Presiden Mursi yang terkudeta militer kembali berkuasa. Segala terror dan ancaman yang dilayangkan oleh militer, tak sedikitpun membuat nyali mereka untuk berjihad menuntuk keadilan surut. Namun sebaliknya, semangat mereka makin membara. Seperti api yang disiram oleh bensin. Makin disiram makin membara. Tembakan-tembakan yang dilakukan oleh pihak militer tak sedikit pun membuat mereka takut mati. Tapi sebaliknya, matilah yang mereka cari. Sejak kemarin, para demonstran terus menenteng kain kafan, menunjukkan mereka tak sedikitpun takut mati. Mereka yakin benar, bahwa telah ada yang mengatur segala urusan mereka, termasuk kematian.
Para demonstran rab’ah bukanlah orang-orang biasa. Mereka adalah para ulama, ilmuwan, doctor, para pelajar yang jumlahnya jutaan. Dari seluruh penjuru Mesir semuanya berkumpul untuk Mesir. Lebih dari itu, mereka berkumpul demi kemuliaan Islam.
Nyaris semua demonstran memegang Mushaf Al-Qur’an. Diseluruh bagian lapangan Rab’ah Al-Adawiyah yang terdengar hanyalah lantunan ayat suci. Berbeda jauh dengan para demonstran pro kudeta. Disana-sini yang terdengar alunan musik yang tak jelas. Seperti pesta di bar. Bahkan lebih dari itu, lapangan tempat berkumpul pendukung kudeta disulap mereka menjadi sebuah tempat sex bebas. Mereka nyaman melakukan semua itu berkat sokongan dan pengamanan dari militer Mesir yang tak punya nurani.
Sementara, Demonstran Rab’ah mengisi hari-hari yang mereka lalui dengan kegiatan yang bermanfaat demi mencari ridho Allah. Ketika Ramadhan kemarin, diadakan berbagai macam perlombaan untuk anak-anak. Hasan yang ketika itu mengikuti Lomba Tahfidz berhasil menjadi juara kedua.
Saat sholat berjamaah lima waktu, semuanya sholat. Jutaan demonstran sholat berjamaah. Saat Ramadhan, terjadilah buka puasa dan sahur bersama yang dihadiri jutaan jiwa. Nuansa persaudaraan begitu kuat tertancap dihati jutaan demonstran ini.
Hal inilah yang membuat pemerintah illegal Mesir pimpinan Jendral As-Sisi dan juga Kaum Sepilis (Sekuler, Pluralis,dan Liberalis) berang. Mereka khawatir, bukannya jenuh dan bosan, para demonstran malah makin kerasan tinggal disana. Maka, disusunlah rencana pembubaran demostran, yang malah menjadi semacam genosida akibat perbedaan pandangan politik. Salah satu hal yang As-Sisi lancarkan lewat kekuatan militernya adalah dengan Perang Psikologi dengan jalan menakut-nakuti para demonstran dengan sesuatu yang membahayakan keselamatan mereka. Strategi ini kurang ampuh untuk meracuni para demonstran yang kuat imannya. Hanya beberapa demonstran ambigulah yang ketakutan mendengar ancaman dan tipuan itu, lantas mereka mundur kebelakang.

Dan, malam ini, ketika Hasan dan Fatimah serta beberapa anak sedang bermain petak umpet sembari menikmati indahnya malam di Rab’ah, agaknya perang psikologi kembali dimainkan As-Sisi. Seorang lelaki paruh baya yang tak dikenal datang mendekati kerumunan anak yang tengah girang tersebut. Ia lantas memamanggil Hasan.
“ Hei, kau kemari sini!” teriak lelaki tersebut. Yang dipanggil mendekat ke orang asing itu.
“ Iya, pak. Ada apa?” tanya Hasan dengan santai, karena malam ini memang malam yang santai.
“Hei anak muda, kau disini dengan siapa ?”
“ Saya disini bersama adik saya, memangnya kenapa ?” tanya Hasan penasaran.
“ Tidak apa-apa, mana adik kau sekarang ?”
“ Itu, yang pakai baju merah” Hasan menunjuk kearah Fatimah yang sedang asiknya bermain, seolah lupa bahwa ia baru saja melihat ibunya ditembak dengan mata kepala sendiri.
“ Mana orang tua kalian ?”

Mendengar pertanyaan itu, Hasan terdiam. Memori dalam otaknya segera mengajaknya kembali kepada peristiwa terkelam dalam hidupnya. Ia ingat bagaimana ayahnya tewas akibat tembakan yang menerjang dada kirinya di Tahrir Square saat revolusi 2011. Dan yang teranyar, ia melihat langsung bagaimana kaki ibunya ditembak oleh seorang prajurit militer, kemudian membelah perut ibunya dengan cara tersadis. Lamunan kelamnya segera buyar ketika dibentak lelaki asing.
“ Hei, kenapa kau melamun? Mana orang tua kau”
Mata Hasan berkaca-kaca. Lantas menjawab lirih sembari menunduk,
“ Saya dan adik saya telah yatim piatu, paman”
Lelaki asing terdiam. Air mukanya sama sekali tak menampilkan wajah prihatin. Ia malah tersenyum sinis, lantas bertanya,
“Kapan ayah kau meninggal ?”
“Setahun lalu, saat revolusi”

Lelaki asing mengangguk-angguk. Masih tersenyum sinis. Kalau begini misinya bisa dijalankan dengan mudah.
“ Lalu ibumu, kapan meninggal ?”
“ Seminggu yang lalu, karena disiksa oleh militer”
Lelaki asing itu menatap Hasan dengan mata yang dilindungi oleh kaca mata hitam. Ditatapnya Hasan dengan tatapan tak bersahabat. Sangat tak bersahabat. Ia tampak menahan sesuatu. Lantas bertanya lagi,
“ Hei anak muda, sekarang berapa umur mu?”
“ Empat belas”
“ Kau masih muda. Masih panjang jalan kau. Jadi ku sarankan, hargai nyawamu. Jangan sia-siakan nyawa!” Lelaki asing menunjuk-nunjuk hidung Hasan sambil tangan yang satunya lagi memegang pinggang.
“ Maksud paman apa ?”

Lelaki asing terdiam sejenak. Ia menarik nafas dalam-dalam dan mengeluakannya dengan pelan. Ditatapnya sekeliling Rab’ah Al- Adawiyah yang penuh dengan manusia dari segala kasta. Sebagian berkumpul sembari membaca Al-Qur’an, sebagian lain beristirahat atau berbicara.
“Asal kau tau, ditempat ini besok akan terjadi tragedi besar. Akan terjadi peristiwa yang berbahaya. Jadi jika kau ingin melihat masa depan, pulanglah ke rumah mu, jangan berada disini, sudahi demonstrasi. Jika tidak, kau akan bernasib sama dengan kedua orang tuamu, kusarankan jangan siakan nyawamu!”.
Hasan terdiam. Hatinya bimbang. Ia memikirkan baik-baik apa yang dikatakan oleh lelaki asing itu. Namun, tekadnya membara. Aku tidak boleh pulang! Tidak ada alasan untuk pulang!
“ Maaf paman aku dan adikku tidak akan pulang !”

Tampak kekesalan terpancar diraut wajah lelaki asing itu. Ia kembali memutar otak untuk menjalankan misinya.
“ Oh, kau akan dalam masalah besar. Apa kau mau, selongsong peluru bersarang di tubuhmu. Entah di kepala, di dada, atau dimana saja. Apa kau mau !?” bentak lelaki asing itu.
Bukannya ciut, malah adrenalin jihad Hasan makin membara. Lantas, ia berkata mantap,
“ Itulah yang kucari paman. Aku mengharapkan peluru bersarang ditubuhku. Cita-citaku mati syahid. Aku ingin seperti kedua orang tua ku!”

Lelaki asing terdiam. Terpaku dan membisu. Tangannya terkepal. Kepalanya panas. Namun ia mencoba tetap kalem walau wajahnya tak dapat dapat melakukannya.
“ Terserah kau! Aku sudah peringatkan. Jika terjadi sesuatu terhadapmu aku tak mau tahu! Dasar anak sok hebat!”
“ Hidup matiku sudah ada yang mengatur, paman! Yang mengaturnya adalah Allah Yang Maha Kuat, bukan paman!” balas Hasan mantap. Jiwa sang idolanya yang bernama sama dengannya, Hasan Al-Banna terasa merasuki jiwa Hasan yang muda.
“ Diam kau! Jangan kau ajari aku tentang agama. Biarkan Syeikh Al-Azhar saja yang mengajarkan agama! Kau jangan ikut-ikut!”
Dengan wajah amarah yang tak dapat disembunyikan, lelaki asing tadi pergi meninggalkan daerah Rab’ah.
Hasan hanya bisa menggelengkan kepala. Bingung dengan apa yang diinginkan lelaki asing yang tak pernah dilihatnya barang sekalipun. Waktu terus berjalan. Malam mulai larut. Para demonstran mulai banyak yang tidur guna mengisi energi mereka kembali. Demonstran yang lain memilih jaga malam. Hasan memilih tidur. Dalam tidurnya ia bermimpi kembali berkumpul bersama keluarganya disuatu tempat. Yang pasti tempat yang sangat indah.

***

Gema azan shubuh membangunkan Hasan. Ia langsung bersiap-siap untuk mengikuti sholat jama’ah yang sangat luar biasa karena diikuti oleh jutaan manusia yang menuntut keadilan dan hak yang dirampas.
Ketika keluar dari camp, Hasan mendengar banyak peserta demonstran berbicar mengenai isu akan terjadinya serangan yang akan di lakukan oleh militer terhadap peserta demonstran. Ada yang mengatakan itu kabar burung, ada yang mengatakan itu kabar benar. Tapi komentar mereka semua sama, “ Tidak ada alasan untuk pulang! Mati syahid adalah cita-cita kita!”. Bahkan banyak yang telah menyelendangkan kain kafan di leher mereka, tanda mereka siap mati.
Sholah Shubuh berjama’ah pun dimulai. Seluruh jama’ah menjalaninya dengan khusyuk, berita bahaya yang mereka terima tak membuat mereka kehilangan kekhusyukan untuk beribadah kepada Sang Penggenggam nyawa.
Namun, saat rakaat kedua, Hasan berwaspada. Dan mungkin juga dilakukan oleh demonstran yang lain. Bukan tanpa alasan mereka waspada. Karena sudah dua kali serangan yang dilakukan oleh militer terhadap jama’ah Sholat Shubuh dilakukan saat rakaat kedua. Namun, sampai sholat selesai tak ada peristiwa yang berbahaya. Selepas sholat, jama’ah Sholah Shubuh berdo’a bersama agar diberikan keselamatan, dan meminta dua pilihan kepada Allah SWT, Hidup mulia, atau Mati syahid.
Matahari mulai tinggi, para demonstran mulai melakukan kegiatan seperti biasa. Tak ada peristiwa yang harus ditakutkan.
Sementara Hasan masih berdiam di dalam camp. Dibacanya lantunan ayat suci dengan merdu. Sementara Fatimah memilih bermain masak-masakan dengan teman-temannya. Ancaman lelaki asing sampai sekarang tak terbukti. Tak ada kekacauan, tak ada kerusuhan.
Namun, satu jam lewat beberapa menit kemudian, yang dikhawatirkan pun tiba. Apa yang dikatakan lelaki asing benar-benar terjadi. Teriakkan demonstran terdengar dimana-mana. Hasan yang baru saja menyelesaikan satu juz Al-Qur’an tersentak. Ia melihat keluar. Suasana sangat kacau. Dilihatnya asap membumbung disegala sisi Rab’ah. Aroma mesiu menusuk-nusuk hidungnya. Hasan lantas siaga. Ia teringat Fatimah. Dimana anak itu. Tadi ia melihatnya tengah asyik bermain di depan camp. Tapi, sekarang mana? Jantung Hasan berdetak kencang. Kini, hanya ada dua pilihan terhampar di depannya, hidup mulia, atau mati syahid. Namun, ia saat ini mencium harum wangi surga, bukan wangi dunia. Lantas, ia berlari keluar camp. Seorang petugas medis memberikannya masker anti gas air mata dan gas beracun Made In Israel yang kemarin ia temukan bersama temannya.

Suasana makin kacau balau, Hasan sempat melihat camp tempat ia tidur terbakar .Teriakkan takbir dimana-mana diselingi dengan suara tembakan dan ledakan. Hasan seperti melihat film perang yang pernah ia tonton bersama ayah,ibu,dan adiknya di bioskop dua tahun silam. Saat itu ia hanya menjadi penikmat sejarah. Namun hari ini ia adalah bagian dari pelaku sejarah. Ia mulai melihat mayat-mayat bergelimpangan disana sini. Ia juga sempat menangkap gelagat militer yang membakar hidup-hidup seorang demonstran. Inikah yang disebut pembubaran demonstran, bukankah ini sebuah genosida?
“ Tar,tar,tar,tas,cetar,dor” suara tembakan saling sahut menyahut. Hasan terus berlari mencari adiknya yang entah kemana. Dan itu dia. Itu dia Fatimah. Ia sedang bersembunyi di balik sebuah gerobak. Jarak antara Hasan dan Fatimah sekitar lima ratus meter. Maka, tanpa pikir panjang Hasan langsung berlari sekencang mungkin menuju tempat persembunyian Fatimah. Namun, tinggal sekitar seratus meter…
“ Tarrrrrr”. Paha Hasan terasa ngilu. Sangat ngilu. Ia tak dapat berlari lagi. Ia terjatuh menimpa sebuah mayat dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Paha Hasan tertembak. Ia tak dapat melihat Fatimah lagi.
Tak lama berselang, dua orang petugas medis mengangkat Hasan yang tengah meringis kesakitan. Hasan lantas ditandu, dan langsung dimasukkan ke ambulance yang kemudian membawanya ke Rumah Sakit Rab’ah. Di dalam ambulance, terdapat banyak mayat dan korban luka parah. Semuanya bertumpuk dalam satu ruangan ambulance yang kecil dan pengap.
Keadaan di rumah sakit juga tak kalah kacau. Para dokter dan petugas medis yang ada kewalahan melayani korban akibat kekerasan junta militer yang tak beradab. Mereka kesulitan memisahkan mana korban yang masih hidup, mana yang sudah meninggal. Hasan ditandu menuju suatu ruangan yang mungkin ruangan pers. Disitu sudah seperti kolam darah yang dipakai berenang oleh mayat-mayat dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Otak terburai keluar. Usus dan lambung yang juga demikian. Namun, lihat bibir-bibir mereka. Semuanya tersenyum.
Hasan tergeletak di sudut ruangan tersebut, disekelilingnya semua mayat. Hasan menahan rasa sakit yang teramat dipaha kanannya. Sebutir peluru tampaknya masih bersarang di pahanya. Inilah peluru yang ia harapkan. Wangi harum semerbak surga semakin tercium olehnya. Dilihatnya ayah dan ibunya tengah duduk berdua di taman yang sangat indah.

Tak lama kemudian, seorang dokter datang ke ruangan tersebut. Ia tampak mencari korban yang masih hidup. Dan tampaknya tinggal Hasan yang masih bernafas.
“ Saya masih hidup dokter!” teriak Hasan dengan susah payah. Dokter tersebut langsung melirik kearah yang memanggil.
“ Saya akan membantu anda!” Dokter itu lantas menuju tempat Hasan tergeletak.
“ Apa yang kau rasakan sekarang,nak?” tanya dokter itu dengan wajah yang dipaksakan tenang.
“ Sa..saya mencium wangi surga” jawab Hasan dengan terbata-bata.
Dokter tersebut terpana mendengar jawaban Hasan. Matanya berkaca-kaca. Tampaknya ia juga ingin mencium wangi surga.
Namun, sesaat kemudian terdengar suara, “Tuk,tak,tuk”. Terdengar seperti suara langkah. Makin lama suara itu makin terdengar . Dan ternyata itu adalah seorang anggota junta militer. Ia berteriak keras “ Semua dokter harus keluar dari rumah sakit atau kami tembak”. Dan ia menemukan dokter yang sedang merawat Hasan.
“ Hei, kau dokter! Pergi kau! Keluar dari sini cepat!”
Namun sang dokter tak berkilah. Ia terus merawat Hasan yang makin mencium semerbak harumnya surga.

Prajurit militer itu lantas mendekat dokter dan memukulnya kuat-kuat. Sang Dokter terjatuh karena pukulan tersebut.
“ Rasakan itu! Sekarang keluar”

Dokter itu tetap diam. Kemudian seorang prajurit militer lainnya melewati ruangan itu.
“ Gamal, sini kau! Kau bawa dokter ini keluar lalu siksa dia!” perintah prajurit yang berada didalam ruangan.
Prajurit itu lantas menyeret dokter, sambil memukulinya. Kini tinggal Hasan dan seorang prajurit yang berada di ruangan. Tak lama berselang terdengar derap langkah beserta jeritan yang bagi Hasan merupakan suara yang tak asing lagi ditelinganya. Dan kemudian muncullah sesosok junta militer yang bersamanya ada seorang anak perempuan.
“ Fatimah…?” teriak Hasan
“ Kakak…” balas Fatimah

Hasan terbelalak melihat wajah adiknya yang lebam. Hasan lantas berteriak sekuat tenaga, “ Hei, junta militer lepaskan adikku silahkan kau siksa aku, tapi jangan kau siksa adikku.
“ Naser, jangan kasih ampun! Kalau perlu bunuh saja!” seru prajurit militer yang berada di dekat Hasan.
“ Baik Sadat!”
“ Jangan…!” teriak Hasan melihat junta militer yang di bajunya tertulis nama Faruq Naser mendekatkan sebuah pisau dileher Fatimah yang mulutnya telah ia sumpal.
“ Diamkau!” bentak junta militer yang dibajunya tertulis nama Sadat Mubarak. Dan tanpa ampun Naser..
“srksrk”
Dengan hati nurani yang entah kemana, Naser menggorok leher Fatimah dengan sadisnya. Darah mengucur kemana-mana. Fatimah tak dapat melakukan apa-apa. Ia hanya dapat menggapai takdirnya.
Hasan berteriak, “ Jangan bunuh adikku, jangan bunuh adikku, bunuh saja aku, biarkan dia hidup !”
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Fatimah telah tergeletak. Agaknya nyawanya telah melayang setelah sempat menggelepar beberapa kali. Kepalanya nyaris putus dengan badanya.
Untuk ketiga kalinya dalam kurun waktu dua tahun Hasan melihat pemandangan mengerihkan semacam ini. Sialnya, anggota keluarganyalah yang mengalaminya. Ayahnya, kemudian ibunya, dan sekarang ia menjadi saksi bagaimana Fatimah dibunuh dengan cara tak beradab seperti ini.

Kini, Hasan melihat Fatimah bergabung dengan kedua orang tuanya. Ia lihat ayah dan ibunya memeluk Fatimah. Raut wajah mereka bahagia. Mereka duduk bersantai-santai dengan buah-buahan diselilingnya. Mereka kenakan pakaian yang sangat indah.
“ Adikkau sudah mati! Sekarang gilirankau!” bentak Sadat. Tak ada perasaan takut sedikitpun di wajah Hasan. Justru ia memang berharap ditembak dan ingin berkumpul bersama keluarganya.
“ Hei anak muda ! Siapa nama kau ?” bentak Naser yang tangannya berlumuran darah Fatimah.
“ Aku Hasan !”

Sadat menginjak perut Hasan. Sementara Naser menatapnya dengan galak. Lantas, ia kembali berkata,
“ Nama kau saja sudah menunjukkan bahwa kau anak ikhwan !”
“ Itu benar ! Aku adalah bagian dari Ikhwanul Muslimin !” jawab Hasan dengan gagah. Wangi surga makin semerbak di hidungnya.
“ Puk, puk” Sadat dengan garangnya menendang kepala Hasan, ketika mendengar jawaban itu.
“ Kau mau mati ?” tanya Naser
“ Itu yang kuinginkan, mati syahid!”
“ Puk,puk” Sadat kembali menendang kepala Hasan sampai lembam. Tak ada sedikit pun rasa gentar di wajahnya. Wangi surga makin semerbak di hidungnya.
“ Heh, anak kecil! Untuk apa kau ikut demonstasi?”
“ Untuk mengembalikan Presiden Mursi ke Istana Ittihadiyyah!”
“ Puk,puk”
“ Itu tak akan terjadi selama ada militer!” bentak Naser
“ Itu akan terjadi karena ada Allah !” jawab Hasan lantang. Wangi surga makin smerbak di hidungnya.
“ Puk,puk”
“ Apa tujuan kau kemari ?” bentak Naser.
“ Allah Ghoyatuna ! Allah tujuan kami !”
“ Puk,puk” wajah Hasan makin tak karuan karena tendangan Sadat.
“ Siapa yang kau teladani sehingga kau kemari ?”
“ Arrosullu Qudwatuna ! Rasulullah teladan kami !”
“ Puk,puk” Wangi surga makin semerbak di hidung Hasan.
“ Berpedoman dengan apa kau sehingga mau ikut kemari?” Naser terus mengintrogasi Hasan yang membuat Hasan makin bersemangat meraih syahid
“ Al-Qur’an Dusturuna ! Al- Qur’an pedoman hidup kami !”
“ Puk,puk” Wajah Hasan makin lebam tak karuan. Darah mulai mengucur di wajahnya.
“ Apa jalan hidup kau sehingga kau ikut demonstrasi ?”
“ Al Jihadu Sabililuna! Jihad adalah jalan hidup kami !” jawabnya dengan lantang. Rasa sakit akibat tembakan tadi terbakar oleh semangatnya.
“ Puk,puk” Sadat dengan beringas terus menendangi Hasan jika ia berbicara.
“ Sebenarnya apa yang kau cari dan kau inginkan disini ?”
“ Al Mautu fi Sabilillah, Asma amanina ! Mati dijalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi !”
“ Puk,puk” darah semakin mengucur di wajah Hasan. Wangi surga makin semerbak di hidungnya.
“ Ah, dasar kau anak Ikhwan !” teriak Naser sembari meletakkan kaki kanannya di jidat Hasan yang bercucuran darah.
“ Kau ini sebetulnya siapa ?” tanya Naser beringas
“ Akulah petualang yang mencari kebenaran, mencari makna serta hakikat kemanusiaanya di tengah manusia. Akulah patriot yang berjuang menegakkan kehormatan, kebebasan, ketenangan, dan kehidupan yang baik bagi tanah air di bawah naungan Islam yang hanif” jawab Hasan dengan lantang mengutip perkataan idolanya , Imam Syahid Hasan Al- Banna.
“ Dasar kau anak Ikhwan” pak,puk,pak. Naser dan Sadat menendangi Hasan dengan cara yang mengerihkan. Tampak kedua junta militer ini menyiapkan senjata laras panjang yang mereka tenteng sejak tadi. Senjata yang telah banyak membunuh manusia-manusia yang terdzolimi.

Wangi surga makin semerbak di hidung Hasan. Dilihatnya keluarganya yang tengah bersantai di suatu taman yang indah. Tapi, mereka tampak menunggu sesuatu. Sadat dan Naser menempelkan corong senjata mereka ke kepala sisi kanan dan kiri Hasan. Melihat itu Hasan berteriak kencang,
“ Hasbunallah Wa nikmal Wakil, Nikmal Maula Wa nikman Nasir! La Ilaha Illallah, Muhammadar Rasulullah ! Allahu Akbar !” Hasan makin mencium wangi surge, dan makin merasa dekat dengan keluarganya.
Mendengar itu Naser dan Sadat saling bersitatap. Naser berteriak kencang,
“ Dasar kau anak Ikhwan !”

Sadat memberi kode satu, dua, tiga. Kedua junta militer ini mengokang senjata mereka, menempelkannya ke kedua sisi kepala Hasan, lantas….
“ Tar, tar”
Dua tembakan itu cukup membuat isi kepala Hasan terburai. Otaknya keluar tak menentu. Hasan telah menggapai takdir dan cita-citanya sebagai syuhada muda. Kini, ia telah berkumpul kembali bersama keluarganya. Ia kembali bertemu ayahnya yang penuh kasih, ibunya yang penuh perhatian, dan adiknya Fatimah. Kini, wangi surga sudah benar-benar ia rasakan. Walaupun kepalanya pecah dan otaknya terburai, namun lihatlah bibirnya. Senyuman bahagia merekah dibibirnya seakan tanda ia bahagia bertemu keluarganya dan seakan mengolok dua junta militer yang menembakkanya dengan berkata, “ Jangan kau kira aku ini mati, jangan kau anggap aku telah tiada. Tapi aku bergelimpangan rezeki di sisi Allah SWT”

Sementara Naser dan Sadat, dua junta militer itu berteriak girang,
“ Ha,ha,ha. Rasakan itu. Jangan coba-coba melawan kami! Akan kami habisi kalian Ikhwan !”
Mereka lantas keluar ruangan yang penuh mayat tak beraturan itu. Dan sebelum keluar, mereka melemparkan sesuatu mirip korek api. Api lantas berkobar membakar mayat-mayat itu. Sudah dibunuh dibakar lagi. Benar-benar tak punya hati. Darah merah yang tergenang di lantai putih, ditambah warna hitam akibat mayat yang terbakar, membuat konfigurasi seperti bendera Mesir, merah, putih, hitam.
Sadat dan Naser buru-buru berlari keluar rumah sakit, karena sebentar lagi seluruh rumah sakit akan terbakar. Mereka berlarian sambil melompat-lompat kegirangan sambil berteriak-teriak,
“ Jenderal As-Sisi berkuasa, Amerika bahagia, Israel berjaya !”
Namun, tinggal beberapa langkah lagi keluar rumah sakit, Sadat dan Naser merasa ada yang memukul mereka dengan sangat kuat dari arah belakang. Sejenak mereka melihat kebelakang, tak ada siapa-siapa. Mereka terjatuh di lantai lobi rumah sakit. Kemudian mereka digiring kepada sesuatu yang tak pernah terbesit di hati dan pikiran mereka. Mereka bingung harus berkata apa. Karena waktu serasa selalu berjalan sia-sia…


BERHIJAB
Cerpen Karya Pratiwi Ramadhany

“Akhirnya aku masuk SMA negeri juga….” Benak hatiku dengan perasaan yang sangat lega… oke, mulai sekarang aku akan memulai semua dari awal mempunyai teman baru dan………….. penampilan yang baru, dengan menggunakan kerudung. jujur saja aku masih belum siap untuk berkerudung entah hal apa yang membuat ku enggan untuk menggunakan kerudung padahal bukan kah itu wajib? tapi kalau menggunakan kerudung secara terpaksa sama aja bohong, terus percuma kan? Kalau niat nya bukan karena Allah, tapi karena suruhan orang tua. Apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar belum siap, kepikiran buat berkerudung saja tidak ada, apa aku harus jujur kepada ibu, kalau sebenarnya aku belum siap untuk berkerudung, dengan tekad yang kuat dan berani aku langsung menemui ibu tanpa berfikir panjang apa yang ibu rasakan jikalau anaknya enggan untuk berkerudung.

Cerpen Islam - Berhijab
Akhirnya aku menemui ibu sedang melipat baju di ruang tamu, aku pun menarik nafas dalam-dalam dan mempersiapkan diri untuk memberitahu ibu kalau aku belum siap untuk berkerudung…. Belum sempat aku berbicara, ibu sudah berbicara terlebih dahulu, “asya….. ibu sudah membelikan mu baju sekolah lengan panjang,rok panjang, dan pelidung kepala mu kerudung” kata ibuku dengan wajah yang sangat gembira, ya Allah apa yang harus aku lakukan? Apa aku tega membiarkan ibu sedih jika aku mengatakan kalau aku belum siap untuk berhijab, tapi kapan lagi? Percuma aku berhijab kalau terpaksa pikirku dengan egois. “hmm….. bu….. sebenarnya a…..ku….. be belum siap untuk berhijab” dengan suara terbata-bata aku mengatakan nya, aku tau pasti ibu sedih mendengar perkataan ku tadi, maafkan aku….
“kenapa kamu belum siap? Kapan kamu siapnya? Apa harus menunggu hidayah? Hidayah itu harus dijemput nak…… ibu kecewa dengan mu” dengan wajah kecewa ibu pergi meninggalkanku sendiri di ruang tamu, dan sekarang aku bingung entah apa yang harus aku lakukan, apakah aku harus mengikuti ego ku, tapi jika aku mendengarkan perkataan ibu sama saja aku terpaksa untuk behijab, ya Allah apa yang harus aku lakukan??

Malam pun datang, aku pun berdoa kepada Allah “ya Allah… apa yang harus hamba Mu perbuat, aku tahu ini adalah kewajiban seorang muslimah untuk berhijab, aku tau tujuan ibu menyuruhku ku untuk berhijab adalah baik, tapi kenapa? Kenapa hamba belum siap untuk berhijab? Padahal begitu gampang menggunakan nya tapi kenapa hamba begitu susah untuk mengenakan nya, ya Allah…. Sesungguhnya maha membolak-balik hati ini hanyalah Engkau, ubah lah hati hamba untuk bisa berhijab karenaMu, kabulkan lah permintaan hambaMu ini ya Allah” tak henti-hentinya aku menangis .

Pagi yang cerah, ini adalah hari pertama aku memasuki sekolah … dengan tidak menggunakan kerudung. Aku sangat bimbang diantara senang dan sedih… entah lah apa yang harus aku lakukan, aku berusaha melupakan kejadian kemarin, kejadian yang membuat aku sangat merasa bersalah terhadap ibu. Setibanya di sekolah, seperti biasa MOPDB siswa-siswi baru oleh kakak-kakak kelas selama 3 hari, akhirnya promo eskul pun di tampil kan aku melihat ada eskul paskib,dance,teater,dance,rohis dll. Aku pun memilih eskul padus karena aku merasa sesuai dengan bakat yang aku punya lalu aku mendaftarkan diri ke eskul paduan suara.

Waktu terus berjalan, sudah 4 bulan aku merasakan menjadi siswa kelas x sma tanpa hijab. Hingga suatu hari aku dan teman-teman eskul padus mendapatkan info kalau disekolah akan menggadakan LDKS (Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa) dan setiap yang menggikuti eskul harus ikut acara tersebut. Aku pun mengikuti acara tersebut selama 3 hari 2 malam. Setelah mendapatkan info tersebut aku pulang dan memberitahui ibu bahwa sekolah mengadakan LDKS di puncak, ibu pun mengizinkan aku untuk mengikuti acara tersebut, acara tersebut dilaksanakan pada tanggal 28-30 oktober. Aku pun berkemas-kemas menyusun barang-barang yang akan di bawa, walaupun aku tahu acara tersebut masih 2 hari lagi.

Hari pertama LDKS pun di laksanakan, kita naik bis menuju puncak selama 4 jam di perjalanan aku hanya tidur, dan akhirnya kami pun tiba di tempat dan membawa barang-barang yang di bawa ke villa. Aku sekamar dengan kak sinta dia adalah perwakilan dari rohis, dia sangat baik,cerdas, dan solehah aku terkagum-kagum dengannya. Tak lama kemudian seluruh peserta LDKS di suruh kumpul oleh panitia di aula, di sana para panitia menyebutkan begitu banyak peraturan selama acara berlangsung, lalu kami pun solat zuhur berjam’ah bersama peserta yang lain dan sesudah itu kami makan bersama di aula.

Sudah 2 hari aku mengikuti LDKS, begitu banyak pengalaman yang aku rasakan. Tapi entah apa yang membuat ku kagum dengan kak sinta, gadis berkerudung yang cerdas. Dulu aku sempat mikir kalau cewek berkerudung itu pendiam,kuper,dan terlalu fanatic. Tapi beda dengan kak sinta dia berani dalam berpendapat, dia tidak kuper, dan dia cerdas. Sekarang aku sadar ternyata cewek berkerudung itu ga semua nya pendiam,kuper atau bahkan fanatic malah menjadi sumber inspirasi bagi ku. Tiba-tiba aku teringat oleh ibu, yang menyuruhku untuk berkerudung. Apakah sesudah pulang dari LDKS aku akan mengenakan kerudung? entahlah. pikir ku. Besoknya kami pun pulang dari LDKS dan aku ingin memberitahui ibu kalau aku ingin mengenakan kerudung.

Seminggu setelah LDKS aku belum juga mengenakan kerudung, entah apa yang membuat ku belum memberitahu ibu kalau aku ingin berkerudung. Akhirnya dengan mengucap bismillah hari ini setelah pulang sekolah aku akan bicara kepada ibu kalau aku akan berkerudung.
setiba di rumah aku pun langsung menemui ibu dikamar dan aku pun memulai percakapan kepada ibu “ ibu… aku ada kabar gembira untuk ibu, apakah ibu siap mendengarkanya?” dengan wajah penasaran ibu pu menjawab dengan cepat “siap anak ku, kamu mau ngasih kabar gembira apa nak?”, “ibu… aku ingin lebih taat lagi mengkaji ilmu Allah, aku ingin menutup aurat dan aku ingin mengenakan kerudung, karena sekarang aku tahu begitu banyak manfaat menggunakan kerudung” setelah aku menjelaskan semuanya ke ibu, tiba-tiba ibu menitikan air mata terharu saat mendengar anak gadis nya ingin menutup aurat, dengan suara yang lembut penuh kasih sayang ibu pun menjawab semua penjelasan ku tadi “subhanallah, anak ku…. Begitu bergetar hati ibu mendengar curahan hatimu, asal kau tau anak ku, setiap hari ibu selalu mendoakan mu untuk mengenakan kerudung, ibu selalu sabar menunggu mu untuk berkerudung dan Alhamdulillah Allah menjawab semua doa ibu” setelah mendengar kata-kata itu aku pun menitikan air mata terharu, ternyata ibu selalu mendoakan ku dan aku sangat bersyukur akhirnya aku akan mengenakan kerudung.

Hari ini adalah hari pertama ku berkerudung di sekolah, setibanya aku di pintu kelas tiba-tiba dua teman ku menyindirku seperti ini “cieee, kesambet apa sya. “ dan ada juga yang seperti ini “Alhamdulillah akhirnya asya mengunakan kerudung, adain syukuran dong sya, makan-makan gitu hahaha” dan masih banyak lagi, aku hanya membalas semua sindiran itu dengan senyuman saja, aku heran kenapa setiap niat baik selalu ada aja cobaan nya, tapi aku berfikir ini hanyalah hal biasa, dengan sindiran-sindiran tersebut aku jadi bisa belajar untuk lebih sabar lagi dan tetap konsisten dengan apa yang aku jalani dan insyaAllah tidak akan goyah.

Saat di kantin aku bertemu dengan kak sinta dan teman-teman nya, begitu gembiranya dia menemui ku mengenakan kerudung “subhanallah sya, kamu cantik sekalu pake kerudung ini.. kamu kelihatan lebih anggun” kata kak sinta kepadaku dan teman-teman nya juga banyak yang memuji ku, aku merasakan begitu banyak hikmah yang aku dapat dengan mrnggunakan kerudung yang aku pakai saat ini, tak henti-hentinya aku bersyukur terhadap Allah atas hidayah yang Dia beri untuk ku. Tiba-tiba kak sinta menawarkan ku untuk ikut eskul rohis “oh iya dek, kamu mau kan masuk eskul rohis? Di rohis bukan ngaji aja kok, kegiatan yang kita adain banyak , dan yang paling aku suka mentoring, mau kan?” tanpa berfikir panjang aku langsung menjawab iya, dan akan ikut eskul rohis.

Di rohis begitu banyak kehangatan yang aku rasakan, ukuhuwah yang kuat, teman-teman di rohis juga baik-baik terhadap ku, setiap perkataan mereka selalu menenangkan hati ku, tak henti- henti nya aku bersyukur kepada Allah, begitu hebat hikmah berhijab ini.


THE MEANING OF LOVE
Karya Grace Nandalena

Braakkk!!!!
Aku memukul meja karena kesal. Berbekal muka kusut dan bibir cemberut berhasil membuat mama berdecak melihatku.
“kenapa kok mukanya kaya di tekuk gitu?” Tanya mama dengan lembut. Ku balas dengan masuk ke kamar tanpa menghiraukan pertanyaan mama. Mama hanya menggelengkan kepalanya. Mungkin heran dengan tingkah laku anak pertamanya ini yang pulang dari sekolah membawa suasana badmood.
“uuh! Kenapa sih harus kaya gini ceritanya!! Aku selalu dapat masalah setiap aku menginginkan sesuatu. Termasuk menyukainya!!! Argh!” gurutuku kesal.
Aku mungkin salah satu dari sekian banyak orang yang mempunyai nasib sial. Ya, setiap ada yang perhatian ke aku, aku selalu membiarkannya sampai 1 minggu, jika tetap perhatian, kesimpulan sememtaraku adalah dia suka kepadaku. Setidaknya simpatik padaku.
Tetapi, setelah 1 bulan ku rasa perhatiannya semakin sering menimpaku. Yang di status facebook sering kaya bales-balesan, sering sindir-sindiran, dsb. Jadi, statusku sama si-doi nyambung kalo digabungin. Jelas dan ketara banget.

Tapi aku gak GR dulu. Dan selama 3 bulan begitu mulu. Lama-lama hatiku ke bawa juga. Yang semulanya gak suka dan nganggep temen biasa, eh, malah suka.
Dan yang lebih parahnya lagi, ternyata temen yang sering curhat sama aku juga suka sama si-doi. Gila!!!
*Aku harus gimana ni?* kata yang selalu ku ucapkan ketika temenku akan mengawali curhatannya.
Padahal, temen yang suka sama si-doi gak cuma satu. Dan kebanyakan yang curhat sama aku. Ya Tuhan, kenapa engkau memberi hamba cobaan berat seperti ini.
Aku meletakkan tasku dan membuang badanku ke kasur untuk merebahan diri sembari berfikir. *Kenapa aku dulu terjebak di hatinya!!* batinku.

Tok tok tok
“masuk” ujarku. Krreeeekk! “sayang, makan dulu yuk! Kamu belum makan siang, mama sudah siapin makaman kesukaan kamu” ajak mama dengan nada lembut.
“nggak ah ma” meniarapkan tubuhku di kasur dan menyembunyikan kepalaku di bawah bantal. “aku ngantuk! Aku tidur dulu ya ma…”
“ya sudah, jangan lupa pakai selimutnya” saran mama. Aku hanya mangut-mangut membalasnya.
Aku tak mau tidur. Aku sebenarnya tak bisa tidur. Aku tak bisa melupakan dia. Aku hanya beralasan kepada mama seperti itu karena aku tak ingin melakukan apapun kecuali satu. Berfikir.
Tar! Jedyaaaaarrrrrr!!
Suara halilintar membangunkan lamunanku. Aku terkejut dan menutup telingaku. Aku ambil selimutku dan ku tutupi seluruh badanku dengan selimut.

Tapi setelah aku sadar. Aku bangun dari tempat tidurku. Mangambil baju baby doll-ku dan bergegas menuju ke kamar mandi. Hujan tidak menaklukkan-ku untuk tidak segera mandi.
“Sudah bangun sayang? Kok cepet bangun? Biasanya lama kalau tidur?” ujar mama ketika melihatku keluar dari kamar. “aku nggak bisa tidur ma. Panas!” jawabku sambil berlalu.
Mungkin sebagian anak menganggapku kurang ajar dan durhaka kepada orang tua karna tidak menjawab pertanyaan orang tua dengan sikap yang baik tetapi sambil berjalan begitu saja.
Hari ini cuaca begitu panas. Entah kenapa, tiba-tiba aku teringat akan dia. Si-doi pernah duduk berdapingan denganku saat aku menunggu jemputan. Teman si-doi berdiri di sampingnya. Mereka mengobrol layaknya ibu-ibu yang sedang arisan. Topiknya berbeda dan ribet menurutku.
Ternyata 3 menit kemudian, jemputanku datang. Ah, senangnya! Aku dapat terbebas darinya.
Tapi ternyata, setelah aku naik, si-doi masih tetap memperhatikan aku sampai di ujung jalan. Dan bodohnya aku, aku juga memperhatikannya. Duh!
Aku memukul jidatku sendiri dengan telapak tanganku setelah meletakkan baju di kamar mandi karna memikirkan peristiwa itu. Ternyata aku tak dapat melupakannya.
Suara tetesan showerku mengiringi suara derasnya hujan. *ternyata sudah hujan, akhirnya suhu kembali dingin lagi* batinku.
Keluar dari kamar mandi, aku bergegas masuk ke kamar. Melewati mama yang sedang membaca majalah kesukaannya. Tetapi aku berhenti di tengah jalan. Terlintas di benakku untuk mencurahkan isi hatiku kepada mama.
Aku membalikkan badan dan menghampiri mama. “ada apa? Kok tumben duduk di sebelahnya mama?” tanya mama terheran-heran.

Aku diam.
Berfikir mencari dan menyusun kata-kata untuk memberi tahu mama semuanya. “lho? Kenapa diam?” Tanya mama sekali lagi.
“em, apa jangan-jangan ada masalah di sekolahmu sampai kamu mau cerita sama mama tapi dak berani? Ada apa sayang?” ujar mama sambil menutup majalahnya dan mengalihkan perhatiannya kepadaku.
“eumm, mah. Mama waktu suka sama papa mulai kapan?” tanyaku perlahan. Mama hanya tersenyum. Sepertinya mama mengerti mengapa aku datang mendekati mama.
“anak mama mulai suka sama orang lain ya?” Aku mangut-mangut dengan perlahan. Aku malu mengatakannya pada mama. Tidak ada yang tahu perasaanku.
“nggak papa kamu suka sama lawan jenis. Itu wajar. Mama memakluminya” Mama seperti meneguhkan hatiku. Aku mulai memberanikan diri bercerita pada mama tentang semuanya.
Mama mendengarkannya dan sesekali tersenyum karena senang. Entah apa yang ada di hati mama, aku tak tahu.

Akhirnya, aku selesai bercerita pada mama. Mama diam sejenak, lalu berkata
“Sayang, menyukai lawan jenis itu wajar. Tetapi jangan kamu terjebak di dalamnya. Banyak orang yang mengenal hal itu hingga mereka terjebak sendiri di dalam lingkaran kelam itu. Sebenarnya cinta itu suci, murni dan penuh kasih sayang. Tapi, cinta bisa jadi bumerang kita untuk menuju kematian”
Aku mengerutkan dahi. Kata-kata mama mulai tidak ku mengerti, tetapi sungguh sulit ku ungkapkan. *kenapa bisa di ujung kematian?* tanyaku dalam hati.

Sepertinya mama tahu maksud expresi yang tak berbentuk ini.
“cinta itu bisa membutakan banyak orang. Sehingga kebanyakan orang tidak mau menggunakan logikanya untuk berfikir tentang cinta. Bila mereka patah hati, mereka bisa melakukan hal yang fatal untuk menyalurkan kekecewaannya. Jangan sampai hal itu terjadi padamu nak”

Aku mulai faham. Mama menasehatiku agar aku tak terjebak dalam lubang cinta.
“mengagumilah sewajarnya. Jangan berlebihan. Mama tidak melarang kamu. Tapi sebaiknya kamu fikirkan dulu baik-baik bagaimana dengan masa depan kamu” mama munutup nasehatnya dengan mengelus pelan rambutku dan meninggalkanku sendiri termenung.
Aku mulai berfikir tentang hal itu.

Dan aku mulai sedikit melupakan dia. Meskipun dia masih ada di hatiku. Aku mendengar kabar bahwa dia sedang menjalin hubungan lain dengan seorang gadis.

Aku tak menangis maupun patah hati. Ketika berita burung itu datang dan menyebar, aku tahu suatu saat akan menjadi benar berita itu. Aku tahu dari awal.
“hehf “ aku tersenyum kecil sambil menghebuskan nafas.
Aku sudah tahu. Jangan pertahankan cinta ketika cinta itu hanya bertepuk sebelah tangan. Karna nasehat mama, aku tahu segalanya.
Entah sekarang berita burung itu benar atau salah. Hanya dia dan gadis itu yang tahu. Senyuman kecil menghiasi wajahku.

DIBALIK AWAN
Karya Nur Faida

Di balik awan
Ku menunggu itu datang.
Ku tatap langit berharap itu terjadi.
Berharap dan terus berharap
Mimpi kecil yang masih berada di balik awan.
Agar awan itu pindah dan mimpiku bisa jadi kenyataan
 
Terlalu konyol ku katakan tetapi itulah kenyataanya. Ku bernama Nur Faida, bisa di panggil faida. Aku ingin sekali mimpi kecilku itu terwujud sebari ku menunggu sejak kecil sampai kelas 3 SMP sekarang. Entah kenapa, aku ingin sekali itu terwujud dan sekarang mimpi kecilku itu menjadi kenyataan.

Hari jumat sepulang sekolah, ku pandang langit yang bersahabat denganku. Ku berlari secepat mungkin karena ku tak mau temanku ninda memelukku dan aku tak mau menjadi kue bercampur kopi. Begitulah masa remaja menurutku, setiap ada teman kita yang ulang tahun pasti ujung – ujungnya orang yang berulang tahun itu akan ditaburi maupun di lempari dengan terigu , air dan telur maka menjadilah kue dan di berikan juga kopi.Ku beruntung sekali, aku tidak terkena semua itu dan kami sekelas perempuan semuanya pergi kerumah ninda.


Saat ku lihat Ninda , ada rasa iri diriku. Sejak kecil ulang tahunku tidak pernah dirayakan oleh teman – temanku semua, ku memang pernah dirayakan ulang tahunku tapi aku hanya 1 kali itupun ku sama keluarga ajah. Ku ingin sekali ulang tahunku dirayakan oleh teman – teman semua, aku selalu menunggu sampai sekarang ini. Ku fahami itu bahwa tanggal lahirku 3 Agustus 1998 jadi ulang tahunku sulit untuk dirayakan karena pada bulan kelahiranku itu adalah bulan ramadhan tetapi ku ingin sekali itu di rayakan walau ditunda waktunya.

Dirumah Ninda, kami semua menunggu 2 teman kami yang akan membawa kue ulang tahun untuk Ninda. Banyak hal yang temanku lakukan semuanya saat menunggu 2 teman kami dan juga ninda yang sedang mandi ini. Ada yang saling berbincang - bincang , main – main bersama dan perbaiki kudung.

Tak lama kemudian, Atul dan Dilah datang membawakan kue ulang tahun berbentuk segi empat untuk Ninda . Teman – temanku pun menancapkan lilin. Betapa senangnya Ninda pastinya akan hal ini.
“Happy birthday Ninda!”sorak semua temanku saat Ninda turun dari tangganya.
Nindapun gabung pada kita semua dan kami semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan Nindapun meniup lilinnya lalu memotong kue ulang tahun yang di beli dari kumpulan uang semua teman di kelas kemudian kamipun semunya memakan kue ulang tahun itu yang ternyata masih ada sisa sepotong kue Ulang tahun Ninda yang kira – kira besarnya 40 derajat.

Tak ku sangka Wawa,Inna dan Icha seseorang yang sudah ku anggap sahabat itu menancapkan lilin lebih dari 8 dengan api yang sudah berada di pucuknya dan menghampiriku.
“faida! Selamat ulang tahun yah. Kan Ulang Tahunmu belum dirayakan waktu itu”kata Wawa yang berada di depanku dengan membawa kue Ulang tahun.

Mereka menyanyikan Lagu Selamat Ulang tahun dan akupun meniupnya. Ya Allah, aku sangat gembira sekali sekaligus terharu. Aku ingin sekali menangis karena saking senangnya tapi ku tahan mataku agar tidak menangis. setelah itu iseng – isengnya wawa mencolek kue itu dan memberikan mukaku bedak kue.Astaga, reflex saja aku membalasnya dan juga Inna melakukan hal seperti itu. Akan hal itu, kudungku jadi kotor dan mereka berdua juga

Alhamdulillah, akhirnya mimpi kecilku sudah terwujud dan selang beberapa hari setelah itu mereka berdua memberikanku kado ulang tahun untukku sebuah pulpen berwarna hijau. Aku sangat senang karena sekiang lama ku menunggu akhirnya terwujud juga. Terimah kasih ya Allah engkau sudah mewujudkan mimpi kecilku itu. Mimpi yang dulunya berada di balik awan sekarang sudah menjadi kenyataan. Itulah mimpi kecilku, ingin dirayakan ulang tahunku dan di beri kado.


0 komentar:

Posting Komentar